Bank Indonesia Dorong Transaksi Mata Uang Lokal, Ketergantungan Dolar AS Mulai Dikurangi
Bank Indonesia atau BI menilai penggunaan mata uang lokal dalam transaksi internasional semakin pentinssssg di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Skema tersebut dikenal sebagai Local Currency Transaction atau LCT.
Menurut BI, penggunaan mata uang lokal dapat mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat atau dolar AS.
Selain itu, transaksi perdagangan antarnegara juga dinilai menjadi lebih efisien dan stabil.
Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan BI, Ruth A. Cussoy Intama, mengatakan banyak negara kini mulai memperkuat kerja sama bilateral menggunakan mata uang masing-masing.
“Sudah saatnya kita memperkuat kerja sama bilateral melalui skema LCT,” ujar Ruth di Makassar.
BI menjelaskan transaksi menggunakan mata uang lokal dapat mengurangi kebutuhan konversi ke dolar AS dalam perdagangan internasional.
Langkah tersebut juga dinilai mampu meredam dampak gejolak ekonomi global terhadap aktivitas perdagangan dan keuangan.
Data BI menunjukkan jumlah pengguna LCT terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Hingga April 2026, rata-rata pelaku LCT mencapai 5.265 pengguna per bulan.
Jumlah tersebut meningkat tajam dibandingkan tahun 2021 yang hanya mencapai 497 pelaku.
Nilai transaksi LCT juga mengalami kenaikan besar.
Sampai April 2026, total transaksi LCT tercatat mencapai 22,61 miliar dolar AS.
Angka tersebut naik 309 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
BI mencatat China menjadi mitra terbesar Indonesia dalam transaksi LCT dengan porsi mencapai 89 persen.
Sementara Jepang menyumbang 6 persen dan Malaysia sekitar 3 persen.
Menurut BI, penggunaan mata uang lokal juga membuat biaya transaksi menjadi lebih murah karena tidak perlu konversi melalui dolar AS.
Bank Indonesia mulai menerapkan kerja sama LCT sejak 2018 bersama Malaysia dan Thailand.
Kerja sama tersebut kemudian diperluas ke Jepang, China, Korea Selatan, Singapura, India, hingga Arab Saudi.











Tinggalkan Balasan