Trump Dinilai Kehilangan Tekanan terhadap Iran, Konflik Timur Tengah Kian Memanas
Donald Trump dinilai mulai kehilangan daya tekan terhadap Iran setelah gagal memaksa Teheran menerima syarat perdamaian dari Amerika Serikat.
Sejumlah analis internasional menilai posisi Trump dalam konflik Iran semakin sulit karena Teheran terus menunjukkan perlawanan meski kehilangan sejumlah petinggi militernya akibat serangan gabungan AS dan Israel.
Dalam laporan AFP, Trump disebut selama ini percaya diri dengan kekuatan diplomasi dan militer Amerika Serikat untuk menekan lawan. Namun, strategi tersebut dinilai tidak berjalan efektif dalam menghadapi Iran.
Direktur program Timur Tengah di Center for Strategic and International Studies, Mona Yacoubian, mengatakan pemerintahan Trump saat ini tidak memiliki banyak keuntungan strategis dalam konflik Iran.
Sebelumnya, Trump bergabung dengan Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei, beserta sejumlah pejabat penting lainnya.
Namun, Iran langsung membalas dengan memperketat kontrol di Selat Hormuz, jalur penting yang dilalui sebagian besar perdagangan minyak dunia. Iran juga meluncurkan rudal dan drone ke negara-negara Teluk yang menjadi sekutu Amerika Serikat.
Menurut Yacoubian, Amerika Serikat membutuhkan kekuatan besar untuk menghadapi Iran di Selat Hormuz. Langkah tersebut dinilai berisiko memicu gangguan pasar global dan meningkatkan ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Trump sebelumnya sempat mengumumkan gencatan senjata pada 8 April 2026 dan terus memperpanjangnya. Namun, upaya negosiasi damai beberapa kali terganggu setelah Iran menolak hadir dalam perundingan yang direncanakan berlangsung di Pakistan.
Selain itu, Trump juga sempat meluncurkan โProject Freedomโ, operasi untuk membantu kapal melintasi Selat Hormuz. Akan tetapi, operasi tersebut dihentikan setelah negara-negara Teluk khawatir menjadi sasaran serangan balasan Iran.










Tinggalkan Balasan